Kendarai Mubil Ku (Translated from a short story by Haruki Murakami "Drive My Car")



Berdasarkan pada hari-hari yang sudah lalu dirinya biasa mengendarai mobil dengan seorang wanita menjadi supirnya, Kafuku sampai pada kesimpulan bahwa kebanyakan dari pengemudi wanita jatuh ke dalam dua kategori: mereka yang terlalu bersemangat atau mereka yang terlalu malu-malu. Untungnya—sebaiknya kita memang harus mensyukuri ini—yang terakhir lebih banyak ditemukan. Pada umumnya, wanita akan lebih berhati-hati ketika sedang duduk menyetir di belakang kemudi ketimbang para lelaki. Tentunya, perasaan was-was itu bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Namun, gaya menyetir mereka memang cenderung mudah membuat pengendara lain merasa jengkel.

            Beberapa dari para pengemudi wanita yang agresif, di lain sisi, terlihat meyakinkan bahwa mereka sebenarnya merupakan pengemudi yang handal. Dalam banyak kasus, mereka akan, tidak lain dan tidak bukan, melontarkan cibirannya kepada para pengemudi yang terkesan lebih was-was, dan merasa bangga bahwa, paling tidak, mereka tidak seperti itu. Mereka justru tidak memedulikan adanya nafas yang terengah-engah dan rem mendadak yang menyertai perubahan jalur secara tiba-tiba di jalan raya, dan kepada kalimat-kalimat yang tidak kurang dari sebuah pujian dari para pengemudi lain.

            Tentu saja, tidak semua wanita berada dalam dua golongan tadi. Ada dari mereka yang tergolong sebagai pengemudi normal yang tidak terlalu agresif pun tidak terlalu was-was. Bahkan, beberapa dari mereka dapat dikatakan ahlinya. Namun, terkadang, meski dengan para pengemudi wanita ahli itu, Kafuku justru biasa merasakan adanya ketegangan tertentu. Tidak ada alasan yang tepat untuk bisa diarahkan, tetapi dari tempat duduk penumpang di mana dia biasanya berada, Kafuku menjamah sebuah gesekan di udara, dan itu lah yang membuatnya merasa tegang. Tenggorokannya akan terasa kering, atau dia akan mulai mengatakan hal-hal konyol, benar-benar hal yang tidak penting dilakukan hanya untuk mengubur keheningan.

            Jelas ada, di luar sana, pengemudi pria yang buruk dan yang mahir pula. Namun pada banyak kasus cara mereka berkendara tidak menciptakan suasana yang sama. Bukan berarti bahwa mereka tidak mau repot. Pada kenyataannya, mungkin saja mereka juga merasa tegang. Namun, mereka tampak lebih sanggup untuk memisahkan antara perasaan tegang itu dan bagaimana  mereka biasanya bertindak secara natural. Mereka mampu berbincang dan bertingkah normal meski fokusnya tetap terpusat pada jalan raya. Seperti, ini seharusnya di sini, dan itu seharusnya di sana. Kafuku tentu tidak tahu menahu dari mana perbedaan antara pengemudi wanita dan pengemudi pria ini awalnya bermula.

            Kafuku tidak kerap membedakan antara pria dan wanita di kehidupan sehari-harinya. Tidak juga kerap melihat perbedaan akan kemampuan yang dimiliki antara kedua jenis kelamin ini. Ada banyak wanita dan pria di kehidupannya dengan jumlah yang setara, dan Kafuku, sebenarnya, lebih merasa nyaman bekerja dengan seorang wanita. Sebagian besar, wanita cenderung lebih memperhatikan hal-hal rinci, dan mereka adalah pendengar yang baik. Masalah hanya akan muncul saat dirinya memasuki mobil dan melihat ada seorang wanita duduk di sebelahnya dengan tangan menggenggam pada setir kemudi. Hal itu, baginya, sangat sulit untuk tidak dihiraukan. Namun, dia sendiri tidak pernah mengutarakan pendapatnya perihal masalah itu kepada orang lain. Terkadang, urusan itu terlihat tidak pantas.

 

 

Itulah saat Oba, seseorang yang menjalankan bisnis bengkel tempat di mana Kafuku biasa memperbaiki mobilnya, merekomendasikan seorang gadis muda kepadanya untuk menjadi supir pribadinya, Kafuku tampak kurang senang. Oba tersenyum pada reaksinya. Yah, aku tahu bagaimana perasaanmu, wajah montir itu berkata.

            “Namun dia adalah pengemudi yang hebat. Aku dapat menjamin itu, tidak masalah. Mengapa tidak kau temui saja dulu dirinya?

            “Tentu, karena kau merekomendasikan,” ujar Kafuku. Dia memang perlu merekrut seorang supir secepatnya, dan Oba adalah seseorang yang terpercaya. Kafuku sudah mengenal pria badung dengan rambut gimbal seperti kabel itu selama 15 tahun. Saat berurusan dengan dunia permobilan, nasihat-nasihatnya hebat layaknya emas.

            “Untuk berjaga-jaga, aku akan memeriksa keselarasan kemudinya, namun sepertinya semua sudah OK, kau dapat mengambil mobilnya esok lusa pukul dua siang. Aku akan meminta gadis itu datang, jadi kau dapat memantaunya, pinta dia untuk mengantarmu berkeliling, mungkin? Jujur saja jika memang kau tidak menyukainya, aku tidak akan tersinggung.

            “Berapa umurnya?

            “Tidak pernah kutanyakan. Tapi kurasa, sekitar 20an,” kata Oba. Lalu dia sedikit mengernyit. “Seperti yang sudah kukatakan, dia adalah supir yang handal, tapi...”

            “Tapi?”

            “Baiklah, bagaimana aku harus mengatakan ini, dia bukan tipe perempuan yang menyenangkan.”

            “Dalam artian apa?”

            “Kasar, ceplas-ceplos, meski tidak begitu sering. Dan dia perokok berat,” jelas Oba. “Kau akan lihat sendiri saat bertemu dengannya, dia juga bukan tipe yang bisa kau sebut imut. Hampir tidak pernah tersenyum, dan jujur saja, dia cukup sederhana.

            “Itu tidak masalah. Aku akan merasa tidak nyaman kalau parasnya terlalu cantik, bisa-bisa muncul rumor yang tidak menyenangkan nantinya.”

            “Kedengarannya mungkin akan cocok, kalau begitu”

            “Terlepas dari semua itu, dia supir yang handal, ‘kan?”

            “Tentu saja, benar-benar handal. Bukan hanya karena dia perempuan, namun sebagai supir pada umumnya, cermat dan sederhana.”

            “Apa pekerjaan sehari-harinya?”

            “Entahlah, aku tidak terlalu yakin. Sepertinya kerja serabutan, sebagai pegawai toko serba guna, jasa kurir, supir, semacam itu. Pekerjaan jangka pendek yang dapat ia tinggalkan begitu saja apabila ada pekerjaan lain yang lebih menguntungkan. Awalnya, dia datang kemari untuk mencari pekerjaan atas rekomendasi temannya, namun situasinya sedang tidak memungkinkan bagiku merekrut karyawan tetap untuk sementara waktu ini. Aku berjanji akan menghubunginya jika sewaktu-waktu aku membutuhkan bantuan ekstra. Dia mudah untuk diandalkan. Dan bagusnya, dia bukanlah seorang peminum.

            Wajah Kafuku seketika muram saat Oba menyinggung perihal minuman keras, dan tanpa ia sadari, jarinya telah menyentuh bibirnya.

            “Kalau begitu, lusa pukul dua siang,” ucap Kafuka. Kasar, tidak banyak bicara, dan sama sekali tidak manis­—Kafuku mulai tertarik.

 

Dua hari kemudian, pukul dua siang, mobil Saab 900 kuning, yang atapnya dapat dibuka, sudah selesai diperbaiki dan siap untuk dikendarai. Bumper sebelah kanan yang tadinya penyok telah kembali pada bentuknya semula, cat tambalannya menyatu sempurna dengan keseluruhan badan mobil. Mesinnya diserasikan, transmisinya disesuaikan kembali, bantalan rem dan penyeka kaca depan terpasang baru. Mobilnya tercuci bersih, roda bannya dipoles, badan mobilnya mulus. Seperti biasa, apa yang dikerjakan Oba selalu sempurna. Kafuku sudah memiliki mobil itu selama 12 tahun dan sudah berkendara sejauh ratusan ribu mil dengannya. Atap kainnya memperlihatkan usia mobil itu. Ketika hujan mengguyur, ia harus waspada air akan merembes. Namun untuk saat ini, Kafuku tidak ada niatan untuk membeli mobil baru. Bukan karena mobil Saab itu tidak pernah memberikannya masalah, namun secara pribadi, ia sudah melekat padanya. Kafuku menyukai atapnya terbuka saat berkendara, apapun musimnya. Pada musim dingin, ia mengenakan jaket tebal dan membalutkan syal di lehernya, sementara saat musim panas ia hanya memakai kaca mata hitam dan topi saja. Kafuku akan berkendara mengelilingi kota, berpindah roda gigi sesuka hatinya dan mendongakkan kepala untuk melihat

awan yang lewat dan burung-burung yang bertengger di kabel listrik setiap dirinya berhenti di lampu merah. Momen-momen tersebut sudah menjadi bagian penting bagi kehidupannya dalam waktu yang lama. Kafuka berjalan-jalan perlahan di sekitar mobilnya, memeriksa dengan begitu cermat seperti kuda sebelum memulai balapan.

            Istrinya masih hidup ketika ia membeli mobil itu pertama kali. Dia lah yang memilih warna kuning-nya. Selama beberapa tahun awal, mereka sering sekali pergi berkendara bersama. Karena istrinya tidak memiliki SIM, Kafuku selalu yang menyetir. Keduanya juga sudah beberapa kali melakukan trip, ke tempat-tempat seperti Izu, Hakone, and Nasu. Namun, selama hampir sepuluh tahun belakangan ini, ia selalu menyetir sendirian. Kafuku beberapa kali dekat dengan seorang wanita semenjak kematian istrinya, namun tidak ada di antara mereka yang pernah menduduki kursi penumpang di sebelahnya. Untuk beberapa alasan, kesempatan itu tidak pernah muncul. Tidak juga dirinya pernah membawa mobil itu berkeliling kota lagi, di samping beberapa waktu ketika pekerjaan mengharuskannya.

            “Ada beberapa kerusakan yang tidak dapat dibetulkan, tetapi mobil ini baik-baik saja.” kata Oba,  sembari mengelus dasbor mobilnya, seakan-akan mengelus leher seekor anjing besar. “Benar-benar dapat diandalkan. Mobil swedia pada zaman itu dirakit demi pemakaian yang lebih tahan lama. Kau hanya perlu sering-sering memeriksa sistem listriknya, namun pada dasarnya memang mereka tidak ada masalah. Dan aku sudah merawat mobil ini sebaik mungkin.”

            Saat Kafuku sedang menandatangani berkas-berkas dan beranjak untuk membayar, gadis muda itu muncul. Ada tanda lahir berbentuk oval berwarna keunguan di tengkuk leher sebelah kanannya yang sepertinya ia malu untuk memperlihatkannya. Rambutnya yang hitam legam dan tebal itu diikat ke belakang, agar tidak mengganggunya. Tidak peduli bagaimana kau memandanginya, gadis itu memang tidak begitu cantik, dan ada sesuatu di wajahnya yang mengganjal, seperti yang sudah dikatakan Oba. Bekas-bekas jerawat remajanya memenuhi pipi gadis muda itu. Matanya besar dan mencolok, seakan sedang memandangi dunia dengan penuh curiga, iris coklat tuanya semakin terlihat mencolok karena ukuran mata itu. Telinganya yang lebar dan menonjol, terlihat seperti piring satelit yang bermukim pada lahan terpencil. Gadis itu memakai jaket herringbone pria yang rasanya sedikit terlalu gerah untuk dikenakan pada bulan Mei, celana katun berwarna coklat, dan sepasang sepatu convers hitam. Di bawah kaos putih lengan panjang yang ia pakai di balik jaketnya Kafuku dapat melihat buah dadanya yang berukuran lebih besar dari rata-rata.

            Oba memperkenalkannya kepada Kafuku. Gadis itu bernama Watari. Misaki Watari.

            “Tidak ada bentuk huruf kanji untuk Misaki—itu tertulis dalam hiragana” ujar Misaki. “Jika kau membutuhkan resume saya dapat memberikannya.” Kafuku mendeteksi adanya menentang pada suaranya.

            “Tidak perlu ada resume untuk ini,” kata Kafuku sambil menggelengkan kepalanya. “Kau dapat menyetir mobil manual, apa benar?”

            “Saya lebih senang mobil manual,” jawabnya dengan nada dingin. Nada bicaranya terdengar seperti seorang vegetarian sejati yang disogok pertanyaan apakah ia mengkonsumsi selada.

            “Itu mobil tua, jadi tidak ada GPS.”

            “Saya tidak butuh itu. Saya pernah bekerja sebagai kurir selama beberapa waktu. peta daerah perkotaan ini terekam jelas di kepala saya.”

            “Bagaimana jika kita melakukan sedikit percobaan? Cuaca hari ini sangat bagus, kita bisa membuka atapnya.”

            “Ke mana kau ingin pergi?”

            Kafuku berpikir sejenak. Mereka tidak jauh dari Shinohashi.

            “Ambil arah kanan menuju perempatan Tengenji lalu mengarah lah ke parkiran bawah tanah di supermarket Meijiya, jadi aku bisa belanja sebentar. Setelah itu kita akan mendaki lereng menuju ke Taman Arisugawa, lalu turun melewati kedutaan Perancis dan menuju ke Gaien Nishi Dori. Setelah ini kembali ke tempat ini lagi.

            “Dimengerti,” ucap Misaki. Ia tidak bertanya-tanya lagi perihal rute perjalanannya. Mengambil kunci dari Oba, dengan gesit Misaki kemudian menyesuaikan tempat duduk supir dan kaca spionnya. Tampaknya gadis itu sudah hafal di mana letak tombol-tombol dan tuasnya berada. Lalu ia menginjakkan kopling dan menguji persnelingnya. Diambilnya sepasang kaca mata hitam dari kantong jaketnya lalu dikenakannya. Misaki menoleh dan mengangguk kepada Kafuku memberi tanda bahwa dirinya sudah siap berkendara.

            “Pemutar kaset,” ia bergumam, sembari melirik ke arah pemutar kaset tersebut.

            “Aku lebih suka dengan kaset-kaset itu” ujar Kafuku. “Lebih mudah digunakan daripada CDs. Aku biasa gunakan itu untuk berlatih dialog”

            “Sudah lama tidak melihat benda itu.”

            “Ketika pertama kali aku menyetir mereka semua dulunya adalah pemutar kaset delapan track,” kata Kafuku. Misaki tidak menjawab, namun ekspresi wajahnya menandakan bahwa yang disebutkan oleh Kafuku tadi adalah sesuatu yang baru baginya.

            Seperti yang sudah dijaminkan oleh Oba, Misaki adalah pengemudi handal. Ia mengoperasikan mobilnya dengan halus, tanpa ada rem yang datang mendadak. Jalan raya sedang ramai, dengan lampu merah yang cukup sering, tetapi ia mampu mengendalikan roda gigi dengan begitu tenang. Pergerakan matanya mengisyaratkan itu kepada Kafuku. Bahkan jika Kafuku memejamkan matanya, ia mungkin saja tidak menyadari jika Misaki sedang berganti gigi. Hanya suara dari mesinnya saja yang memberitahukan gigi nomor keberapa Misaki merubahnya. Sentuhan kaki dengan rem dan pedal gasnya terasa begitu hati-hati dan ringan. Yang paling mengagumkan adalah, Misaki tampak sangat santai. Bahkan, dia terlihat lebih tenang saat sedang berkendara. Ekspresinya yang tegang dan datar pun melunak, matanya terlihat semakin lembut. Namun dia sama pendiam nya. Ia hanya akan menjawab pertanyaan Kafuku dengan singkat lalu tidak ada lagi yang ia katakan.

            Ketidakhadirannya sebuah percakapan sama sekali tidak mengganggu Kafuku. Dirinya sendiri bahkan tidak terlalu pandai berbasa-basi. Meskipun ia senang berbicara mengenai hal-hal penting dengan orang yang dikenalnya, Kafuku lebih memilih untuk diam. Duduk di kursi belakang sembari memandangi jalanan di luar. Setelah bertahun-tahun menyetir sendiri, pemandangan dari tempat duduk yang ia duduki sekarang terasa segar dan baru. Kafuku membuat Misaki memarkirkan mobil secara paralel beberapa kali di Gaien Nishi Dori yang sedang padat, sebuah tes yang dilewatinya dengan mudah tanpa ada usaha yang terbuang sia-sia. Misaki memiliki perasaan yang pas dengan mobilnya, dan penentuan waktunya sungguh tepat. Ia akan menghisap rokoknya hanya saat berhenti di lampu merah. Marlboros adalah merek rokok yang dipilihnya. Ketika lampu hijau menyala, ia akan memadamkan rokoknya. Ujung rokoknya tidak ada guratan lipstik yang menempel. Kuku-kuku jarinya pun tidak dipoles pun dirawat. Ia tampaknya hampir tidak menggunakan riasan.

            “Apakah kau keberatan jika aku bertanya beberapa pertanyaan?” tanya Kafuku ketika mereka sampai di Taman Arisugawa.

            “Silakan saja.”

            “Di mana kau belajar menyetir?”

            “Saya besar di Hokkaido, di daerah pegunungan. Mulai menyetir pada saat awal masa remaja saya. Tinggal di Hokkaido mengharuskan kau untuk memiliki mobil. Jalanan hampir tertutup es setiap setengah tahun. Kau tidak bisa menolak untuk harus menjadi supir yang handal.”

            “Tetapi kau tidak belajar bagaimana memarkirkan mobil secara paralel di pegunungan, ‘kan?”

            Misaki tidak menjawab pertanyaan itu. Tidak perlu diragukan lagi, Misaki merasa pertanyaan itu tidak perlu terjawab.

             “Apakah Oba memberitahumu mengapa aku membutuhkan seorang sopir secara tiba-tiba?”

            Misaki menjawab dengan ekspresi dan intonasi yang datar, matanya tetap melihat ke depan.

            “Kau adalah seorang aktor, dan pada saat itu kau sedang ada pementasan enam hari seminggu berturut-turut. Kau selalu menyetir sendiri untuk berangkat ke teater. Kau tidak suka berkendara dengan taksi atau bis. Itulah mengapa kau selalu berlatih setiap baris dialogmu sepanjang perjalanan. Tidak lama kemudian kau mengalami kecelakaan kecil dan surat berkendaramu dicabut. Kau juga sering mabuk, dan ada masalah dengan penglihatanmu.”

Kafuku hanya mengangguk. Rasanya seperti ada seseorang yang sedang menggambarkan sebuah mimpi kepadanya.

            “Pemeriksaan mata yang diwajibkan oleh petugas kepolisian berakhir dengan diagnosa glaukoma. Ternyata aku memiliki titik buta. Mata kananku, di bagian ujung. Aku sama sekali tidak tahu akan hal itu.” Jumlah alkohol yang terlibat dalam kasusnya dapat diabaikan, oleh karena itu mereka bisa membungkamnya. Tidak seorang pun membicarakan masalah itu ke media. Namun pengurus teater tidak dapat memungkiri masalah dengan penglihatannya. Pada saat itu, mungkin saja sebuah mobil menabraknya dari belakang di sisi kanannya, dan ia tidak sempat menyadarinya. Pihak teater lalu bersikeras bahwa Kafuku harus berhenti menyetir, paling tidak sampai hasil tesnya mengatakan jika permasalahannya telah diselesaikan.

            “Pak Kafuku?” Misaki bertanya. “Apakah tidak papa apabila aku memanggilmu itu?

Apakah nama itu adalah nama panggungmu?”

            “Sebuah nama yang tidak biasa, namun memang itu nama asliku,” Kata Kafuku. “Dalam kanji, artinya adalah ‘Rumah Keberuntungan.’ Terdengar seperti pertanda baik, hanya saja belum ada sama sekali imbalan yang pernah aku dapatkan. Tidak ada dari sanak saudaraku yang dapat kau sebut kaya raya.”

            Setelah hening beberapa saat, Kafuku memberitahu Misaki perihal bayarannya sebagai sopir. Bukan merupakan gaji yang besar. Tetapi hanya itu biaya yang bisa diberikan dari teaternya. Meskipun namanya sudah cukup terkenal, Kafuku tidaklah seterkenal bintang TV atau film, ada batasan upah yang dapat dihasilkan dari setiap panggung. Untuk aktor sekelas dirinya, merekrut sopir pribadi, meski hanya untuk beberapa bulan, merupakan sesuatu kemewahan yang luar biasa.

            “Jadwal bekerjamu dapat berubah sewaktu-waktu, namun untuk beberapa hari kedepan kehidupanku hanya terpusat pada teater, yang mana waktu pagimu akan luang. Kau dapat istirahat sampai waktu siang jika kau mau. Aku akan pastikan kau bisa keluar pukul sebelas malam—jika waktu ku bekerja ternyata lebih larut aku akan pulang dengan taksi. Kau juga akan mendapat jatah libur sekali dalam seminggu.”

            “Diterima,” tutur Misaki apa adanya.

            “Pekerjaan ini tidak seharusnya memberatkan. Bagian terberatnya mungkin ketika kau harus bosan menunggu berjam-jam tanpa ada hal lain yang bisa dilakukan.”

            Misaki tidak merespon, bibirnya tetap datar. Raut wajahnya mengatakan bahwa ia telah mengerjakan pekerjaan yang lebih sulit.

            “Aku tidak keberatan jika kau mau merokok sementara atapnya terbuka,” ucap Kafuku. “Tetapi jangan saat tertutup.”

            “Setuju”

            “Apa kau ingin mengajukan syarat?”

            “Tidak ada.” Misaki menyipitkan matanya perlahan sembari mengurangi laju mobil. “Aku suka dengan mobil ini,” tambahnya.

            Keduanya melanjutkan perjalanan mereka tanpa ada perbincangan. Ketika mereka sampai kembali ke bengkel, Kafuku memanggil Oba dan memberitahu padanya, “Aku putuskan untuk merekrutnya,” umum Kafuku.

           

Misaki mulai bekerja sebagai sopir pribadi Kafuku hari selanjutnya. Ia tiba di apartemen  Kafuku, Ebisu, pada pukul setengah empat sore, mengeluarkan Saab kuningnya dari garasi, lalu mengantar Kafuku ke teater yang berlokasi di Ginza. Mereka berkendara dengan atap terbuka kecuali kalau saat itu hujan. Sepanjang perjalanan Kafuku berlatih dialognya, membaca baris dialognya dengan rekaman kaset. Drama yang dimainkan saat itu adalah sebuah drama adaptasi era Meiji dari Paman Vanya-nya Chekhov. Kafuku berperan sebagai Paman Vanya. Ia sudah begitu fasih dengan dialognya, namun tetap memainkannya demi menenangkan diri sebelum pertunjukan. Hal ini merupakan kebiasaan yang sudah berlangsung lama.

Lazimnya, mereka biasa mendengarkan string kuartet nya Beethoven di perjalanan pulang. Kafuku tidak pernah jenuh mendengarnya—ia menganggap instrumen-instrumen tersebut cocok untuk berpikir atau, jika dia bisa memilih, untuk tidak memikirkan tentang apapun. Apabila Kafuku menginginkan sesuatu yang lebih ringan, ia memilih untuk mendengarkan rock klasik Amerika. Grup seperti Beach Boys, the Rascals, CCR, the Temptations, dan sebagainya. Musik-musik populer pada masa mudanya. Misaki tidak pernah berkomentar perihal musik pilihannya. Kafuku sendiri tidak dapat menilai apakah musik-musik itu mampu memuaskan atau malah membuatnya menderita, bahkan jika memang Misaki benar-benar mendengarkan. Misaki adalah gadis muda yang tidak menunjukkan emosinya.

Normalnya, Kafuku merasa membaca dialog di hadapan orang lain adalah sebuah tekanan, namun kekangan itu menghilang saat bersama Misaki. Dalam artian lain, Kafuku perlu berterima kasih atas sifat dingin dan kurangnya ekspresi itu. Dia bisa saja meraung di sebelahnya saat latihan sementara Misaki berlagak seakan tidak mendengar apapun. Memang cukup memungkinkan jika perhatiannya semata-mata terfokus pada jalanan. Tampaknya, mengemudi menempatkan pikirannya seperti sedang bermeditasi.

Kafuku tidak tahu apa yang gadis itu pikirkan tentangnya sebagai seorang pribadi. Apakah ia baik hati, atau tidak terkesan dan tidak tertarik, atau apakah ia membencinya dan terpaksa bertahan bersamanya hanya demi mendapatkan sebuah pekerjaan? Kafuku berada di dalam kekalutan. Akan tetapi baginya, apa yang gadis itu rasakan tentangnya tidak begitu penting. Kafuku suka dengan kehalusan dan ketepatannya saat mengemudi, kurangnya dalam bercakap-cakap, dan bagaimana ia selalu menyimpan perasaannya sendiri.

Setelah malam pertunjukkan berakhir, Kafuku membersihkan semua riasan yang melekat di wajahnya, berganti baju, dan beranjak pergi meninggalkan teater segasik mungkin. Ia tidak senang berlama-lama. Hampir tidak ada rekan sesama aktor yang ia kenali. Kafuku biasanya akan segera menghubungi Misaki melalui handphone nya dan meminta gadis itu menjemputnya di depan pintu studio. Saat Kafuku melangkah keluar, Saab kuning itu pasti sudah menunggunya di sana. Sesampainya ia di apartemen Ebisu nya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh lebih. Pola ini terus terluang sepanjang rutinitas malamnya.

Kafuku memiliki pekerjaan lain. Ia menghabiskan sehari dalam seminggu syuting sebuah serial drama di studio televisi yang lokasinya ada di tengah-tengah kota. Ini adalah serial drama detektif yang tidak begitu spesial, namun jumlah penontonnya besar dan bayarannya menguntungkan. Ia berperan sebagai tukang ramal yang menuntun pemeran detektif wanita utama. Dalam mempersiapkan perannya, Kafuku harus memakai pakaian layaknya seorang seorang tukang ramal dan mendirikan sebuah stan di pinggir jalan, di mana ia akan menyebarkan keberuntungan kepada sejumlah pejalan kaki. Banyak yang menyatakan jika semua ramalannya tepat sasaran. Saat waktu syuting nya telah berakhir Kafuku biasanya akan langsung bergegas menuju teaternya di Ginza. Di situlah bagian yang beresiko. Pada akhir pekan, setelah pertunjukan siang, ia akan mengajar kelas akting di malam hari. Ia senang bekerja dengan aktor-aktor muda. Misaki lah yang membawanya kepada semua aktivitas itu. Ia akan mengantar Kafuku dari satu tempat ke tempat lain tanpa sedikit merasa terbebani, selalu tepat waktu, sehingga Kafuku mulai terbiasa duduk di sebelahnya. Sesekali bahkan Kafuku dapat terlelap.

Saat cuaca semakin panas, Misaki mengganti jaket herringbone nya dengan jaket musim panas yang lebih tipis. Ia kerap mengenakan jaket selama bekerja. Mungkin baginya itu sama seperti pakaian seorang sopir pada umumnya. Sementara saat musim penghujan, atapnya lebih sering ditutup.

Duduk di kursi penumpang, Kafuku sering memikirkan istrinya yang telah tiada. Ada alasan tertentu yang membuatnya sering teringat mendiang istrinya selama keberadaan Misaki sebagai sopir pribadinya akhir-akhir ini. Istrinya juga seorang aktor, seorang wanita mempesona yang usianya dua tahun lebih muda darinya. Kafuku adalah aktor yang biasa disebut sebagai aktor pembantu, direkrut untuk memerankan peran cameo dengan karakter yang seringnya unik. Kafuku memiliki bentuk wajah yang lonjong dan sempit, dan kepalanya mulai botak meski ia masih terbilang cukup muda. Bukan tipe seorang laki-laki pemimpin. Istrinya yang rupawan, di sisi lain, dulunya adalah pemain utama, peran dan bayarannya merefleksikan status yang dimilikinya. Seiring bertambahnya usia mereka, meskipun demikian, Kafuku menjadi dikenal sebagai aktor dengan skill mumpuni dan persona yang berbeda, sementara ketenaran istrinya kian meredup. Namun keduanya saling menghargai pekerjaan satu sama lain, sehingga ketenaran mereka dan penghasilan mereka masing-masing tidak pernah menjadi masalah.

. Kafuku begitu mengagumi mendiang istrinya. Ia sudah jatuh hati padanya sejak kali pertama mereka bertemu (saat itu umurnya 29 tahun), dan perasaan itu tidak pernah berubah hingga hari di mana sang istri tiada (kafuku berumur 45 tahun saat itu). Ia tidak pernah tidur dengan wanita lain sepanjang umur pernikahannya. Keinginan tersebut pun tidak pernah muncul dalam dirinya, meskipun ia tahu kesempatan itu ada untuknya.

Istrinya, di sisi lain, kerap tidur dengan beberapa pria. Sejauh yang ia tahu, sudah ada sekitar empat kali perselingkuhan. Dengan kata lain, sudah ada empat pria yang berbagi tempat tidur dengan istrinya dalam jangka waktu tertentu. Istrinya tidak pernah memberi tahu kepada nya, tentu, namun tetap saja , tidak butuh waktu lama bagi Kafuku mengetahui bahwa istrinya telah tidur dengan pria lain. Ia memiliki kepekaan yang tajam dengan hal-hal semacam ini, dan rasa cinta yang dimilikinya kepada mendiang istrinya membuat dirinya tidak mungkin mengabaikan adanya  tanda-tanda itu, betapapun dirinya ingin melakukannya. Sangat mudah untuk menebak-nebak siapa pria yang telah tidur dengan istrinya dari caranya membicarakan mereka. Pria-pria itu, selalu, merupakan teman sesama aktor yang pernah bermain dalam satu film dengannya. Kebanyakan dari mereka lebih muda. Hubungan mereka terjalin untuk beberapa bulan selama proses syuting, dan kandas begitu saja saat syuting mereka berakhir. Hal yang sama terjadi sebanyak empat kali, dengan pola yang sama pula.

Kafuku belum sempat mengetahui mengapa istrinya merasa membutuhkan itu. Sampai sekarang Kafuku belum mengetahuinya. Hubungan mereka sebagai sepasang suami-istri dan sebagai partner kehidupan masing-masing terjalin begitu baik di awal.  Jika ada waktu yang memungkinkan, mereka biasanya akan berbincang dengan penuh gairah dan kejujuran perihal hal apa saja, dan mencoba untuk saling percaya satu sama lain. Kafuku berpikir jika dirinya dan mendiang istrinya adalah dua sejoli yang sangat harmonis, secara spiritual maupun seksual. Banyak dari teman mereka pun mengatakan jika keduanya sangat cocok.

Terkadang, Kafuku merasa begitu menyesal tidak pernah bertekad untuk bertanya kepada istrinya perihal perselingkuhan ini saat mendiang masih hidup. Itu suatu penyesalan yang masih sering menghantuinya. Padahal kala itu kesempatan untuk nya bertanya sudah sangat dekat. Kemungkinan ia akan mengatakan, Apa yang kau cari dari para pria itu? Apa yang kurang dari dalam diriku? Namun saat itu hanya tinggal beberapa bulan sebelum kematiannya, dan saat itu juga istrinya sudah sangat menderita menghadapi ajalnya yang semakin dekat. Kafuku tidak tega untuk meminta jawaban. Hingga akhirnya, tanpa ada sedikitpun penjelasan, istrinya pergi dari dunianya. Pertanyan yang tidak pernah diajukan, dan jawaban yang tidak pernah tersampaikan. Kafuku hanyut dalam pikiran-pikiran itu saat acara pengkremasian istrinya, saat ia menarik tulangnya dari serpihan abu. Begitu terhanyut sampai-sampai ada yang berbisik di telinganya, Kafuku sama sekali tidak dengar.

Tidak perlu dijelaskan, membayangkan istrinya berada di dalam pelukan pria lain sungguh menyakitkan bagi Kafuku. Tidak ada cara lain. Ketika ia memejamkan matanya, detail momen saat mereka bercinta akan muncul tanpa diminta lalu memudar lagi hanya untuk muncul kembali. Ia tidak ingin membayangkan hal itu namun baginya tidak sanggup. Bayangan-bayangan itu mengikis dirinya seperti pisau yang tajam, terus-menerus tanpa henti. Ada kalanya ia berpikir bahwa mungkin akan jauh lebih baik apabila ia tidak mengetahui ini semua sejak awal. Namun Kafuku selalu kembali kepada prinsip utamanya, bahwa, di setiap situasi, mengetahui lebih baik ketimbak mengabaikan. Betapapun menyiksanya, penting baginya untuk menghadapi kebenaran. Hanya dari mengetahui seseorang dapat menjadi lebih kuat.

Namun yang lebih menyiksanya, sebenarnya, adalah bahwa ia harus menjalani kehidupan seperti biasa di samping adanya rahasia dari istrinya—sebuah upaya yang dilakukannya untuk tetap membuatnya berada dalam kegelapan. Tersenyum tenang saat hatinya sedang hancur dan berdarah-darah. Berlagak seakan-akan segalanya baik-baik saja sementara keduanya tetap saling berbagi tugas rumah, bercengkrama, hingga bercinta di malam hari. Ini bukan suatu hal mudah yang dapat dilakukan oleh orang normal di luar sana. Namun, Kafuku adalah seorang aktor profesional. Meluruhkan seluruh jati diri, darah, dan kulitnya, demi dapat menyatu dengan peran adalah panggilannya. Kali ini, ia perlu mendekap peran itu sekuat tenaga, seperti sebuah pertunjukan tanpa penonton.

Namun apabila mengesampingkan persoalan ini—mengecualikan, dengan kata lain, fakta bahwa istrinya telah berselingkuh dengan beberapa pria—kehidupan pernikahan mereka dulunya tentram dan memuasecaraskan. Karir keduanya berjalan lurus, dan tidak ada sama sekali masalah keuangan di antara mereka. Setelah hampir 20 tahun bersama, mereka telah banyak bercinta; bagi Kafuku, paling tidak, aktivitas seksual mereka telah sepenuhnya memuaskan. Setelah istrinya didiagnosa memiliki kanker rahim dan, dalam kurun waktu yang tampaknya hanya sesaat, meninggal dunia, ia merasa sudah cukup beruntung bertemu dengan beberapa wanita yang, lumrahnya, kemudian ia tiduri. Namun Kafuku tidak pernah bertemu dengan perasaan intimasi yang sama dengan yang ia miliki bersama istrinya. Yang ia rasakan hanyalah semacam perasaan deja vu singkat, seperti ketika ia sedang mempertunjukkan ulang suatu adegan di masa lalunya.

Kantor manajemennya membutuhkan informasi khusus untuk dapat memproses gaji Misaki, Kafuku pun perlu menanyakan kepada Misaki alamat rumahnya, lokasi di mana keluarganya tinggal, tanggal lahir, dan nomor plat kendaraannya. Misaki tinggal di sebuah apartemen yang lokasinya ada di pusat kota Akabane, status lokasi keluarganya tercatat di Junitakicho, suatu daerah yang letaknya ada di Hokkaido, dan umurnya sekarang menginjak 24 tahun. Kafuku tidak tahu di mana sebenarnya Junitakicho yang disebutkan. Namun setelah ia mengetahui bahwa Misaki masih berumur 24 tahun menyita perhatiannya.

      Mendiang istrinya pernah melahirkan seorang anak yang, malangnya, usianya hanya bertahan tiga hari. Bayi itu perempuan. Meninggal di malam ketiganya, di kamar bayi milik rumah sakit. Jantungnya berhenti begitu saja tanpa ada pertanda. Ketika mereka menemui bayi itu keesokan harinya, tubuhnya sudah dingin. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa ada kecacatan jantung saat bayi itu lahir. Tidak ada cara lagi untuk menjelaskan bagaimana kejadiannya. Tidak juga dengan mencari kebenaran atas kematian bayi itu akan membuatnya hidup kembali  Apapun yang telah terjadi, mereka belum sempat memberinya nama. Kalau saja bayi itu hidup, umurnya sudah dua puluh empat tahun. Kafuku selalu mengingat kelahiran bayi tanpa nama itu di setiap doanya. Lalu ia akan membayangkan bagaimana bayi itu beranjak dewasa.

      Sudah terbayang, kematian mendadak anak perempuannya telah meninggalkan luka bagi Kafuku dan mendiang istrinya, menggantungkan jiwa mereka dalam kegelapan, kehampaan yang begitu berat. Butuh waktu beberapa lama bagi mereka untuk kembali bangkit. Mereka mengurungkan diri di apartemen saja, di mana seluruh waktu mereka habiskan dalam kesunyian. Kata-kata hanya akan meremehkan perasaan terpendam yang mereka rasakan. Mendiang istrinya, saat itu, larut bersama dengan alkohol, mengonsumsi anggur merah dengan jumlah yang tidak wajar. Sementara Kafuku, untuk sementara waktu, menjadi gemar dan fanatik dengan kaligrafi. Ia merasa seperti simbol-simbol hitam yang tergores melalui kuasnya di atas kertas putih itu, entah mengapa, dapat mengungkapkan apa yang hatinya sedang rasakan.

      Bagaimanapun juga, dengan saling menguatkan satu sama lain, perlahan namun pasti, keduanya sanggup pulih dari luka-luka di masa kelam itu. Mereka dapat kembali bekerja dengan lebih baik. Mereka bisa dengan sangat rakus melahap semua peran baru yang didapatkan. Mendiang istrinya mengatakan bahwa dirinya tidak lagi ada keinginan untuk memiliki seorang anak, Kafuku pun menyetujuinya. Mereka selalu memastikan bahwa sang istri tidak akan hamil lagi. Kafuku begitu bahagia dengan semua yang istrinya inginkan. Kalau diingat kembali, ia menyadari jika di masa itulah perselingkuhan itu terjadi. Mungkin kepergian anak mereka telah membangkitkan kembali hasrat seksualnya. Namun, itu hanyalah dugaannya. Tidak ada yang lebih dari sekedang “kemungkinan”

 

—-

 

“Bisakah aku bertanya sesuatu?” Tanya Misaki.

      Kafuku sedang menatap ke luar jendela sepanjang perjalanan, hanyut dalam pikirannya. Ia menoleh seketika ke arah Misaki. Mereka sudah dua bulan berkendara bersama, dan jarang sekali Misaki memulai sebuah percakapan.

      “Ya, tentu saja,” jawab Kafuku.

      “Mengapa kau memilih menjadi seorang aktor?”

      “Seorang teman perempuanku di kampus mengajakku untuk bergabung ke klub teater. Sebelumnya, aku tidak pernah tertarik dengan dunia peran. Yang kuinginkan saat itu adalah bermain basebal. Aku adalah shortstop pertama di tim SMA ku, dan aku cukup percaya diri dengan kemampuanku dalam pertahanan. Sayangnya aku tidak begitu bagus untuk berada di dalam tim kampus. Jadi aku berpikir, apa-apaan, mungkin saja aku bisa mencoba hal baru. Aku ingin menghabiskan waktu dengan perempuan itu juga. Setelah aku mencoba berakting untuk beberapa waktu, aku sadar bahwa aku sangat menyukainya. Bermain peran mengizinkanku untuk menjadi orang lain. Kerennya, setelah pertunjukkan itu selesai, aku bisa kembali menjadi diriku yang sebenarnya. Aku benar-benar menyukai itu. “

      “Kau suka menjadi orang lain ketimbang menjadi diri sendiri?”

      “Ya, selama aku tahu aku bisa kembali.”

      “Apa pernah kau tidak ingin kembali?”

       Kafuku berpikir sejenak. Belum pernah ada orang yang bertanya seperti itu kepadanya sebelumnya. Mereka sedang menuju ke arah pintu keluar Takebashi di Tol Tokyo Metropolitan, dan jalanan saat itu cukup padat.

      “Memang tidak ada tempat lain untuk kembali, ‘kan?” tutur Kafuku.

      Misaki tidak melontarkan pendapatnya.

      Mereka kembali dalam kesunyian untuk beberapa saat. Kafuku melepas topi basebalnya, memeriksa bentuknya, dan memakainya kembali. Di sebelah mereka melaju sebuah truk pengangkut dengan roda yang terlalu banyak untuk dapat dihitung, kepala truk yang begitu besar, membuat mobil Saab kuning mereka terasa seperti sangat mudah dihancurkan. Seperti sebuah kapal kecil yang berlayar di sebelah tanker minyak.

      “Ini mungkin akan kelewat batas,” Misaki memulai pembicaraan, “namun aku sudah penasaran. Apakah tidak masalah jika aku menanyakannya?”

      “Tanyakan saja,” kata Kafuku.

      “Mengapa kau tidak memiliki teman?”

      Kafuku menatap Misaki sambil bertanya-tanya. “Bagaimana kau tahu aku tidak memiliki teman?”

      Misaki mengangkat bahunya. “Aku sudah menjadi supirmu selama dua bulan sekarang, jadi aku pikir aku sudah bisa mengetahui cukup banyak tentang mu.”

      Kafuku mengamati roda truk pengangkut yang sangat besar itu cukup lama. “Tidak banyak orang yang dapat aku sebut sebagai teman sungguhan,” celetuk Kafuku. “Entah mengapa.”

      “Bahkan saat masa kecilmu?”

      “Oh tidak, aku punya banyak teman semasa kecil. Namun semakin aku tumbuh besar aku merasa tidak lagi membutuhkan kehadiran mereka. Terutama saat aku akhirnya menikah.”

      “Memiliki istri artinya kau tidak lagi membutuhkan teman?”

      “Sepertinya begitu. Aku dan dirinya adalah teman baik juga, pada akhirnya.”

      “Di umur berapa kau memutuskan untuk menikah?”

      “Tiga puluh. Kita berperan di film yang sama. Ia mendapat peran yang cukup penting, dan aku hanya mendapat bagian kecilnya.”

      Mobilnya beringsut maju melewati kemacetan jalan raya. Atapnya tertutup seperti biasa saat mereka melaju di jalan tol.

      “Kau sama sekali tidak minum?” Kafuku merubah topik pembicaraan.

      “Tubuhku tidak sanggup menerima alkohol,” jawab Misaki. “Dan ibuku dulunya adalah peminum yang bermasalah, mungkin itu ada sangkut pautnya.”

      “Apakah masih seperti itu sampai sekarang?”

       Misaki menggelengkan kepalanya. “Ia sudah wafat. Saat itu ia berkendara dengan keadaan mabuk, kehilangan kontrol saat menyetir, mobilnya terpintal, dan terlempar ke luar dari jalan raya lalu menabrak pohon. Ia meninggal saat itu juga. Aku masih tujuh belas tahun.

      “Malangnya,” ucap Kafuku menanggapi.

      “Apa yang terjadi maka terjadilah,” tuturnya tanpa ada kesedihan sama sekali. “Semua itu memang akan terjadi cepat atau lambat. Pertanyaannya hanya, kapan.”

      Mereka kembali hening beberapa saat.

      “Dan ayahmu?”

      “Aku tidak tahu di mana keberadaannya. Ia meninggalkan rumah saat aku masih delapan tahun dan tidak pernah melihatnya lagi setelah itu. Tidak pernah mendengar apapun tentangnya. Ibu selalu menyalahkan diriku atas kepergiannya.”

      “Mengapa?”

      “Aku adalah anak satu-satunya. Kalau saja parasku lebih cantik, mungkin ayah tidak akan pergi. Itu yang sering ia katakan padaku. Parasku yang buruk inilah penyebab ayah meninggalkan kami.

      “Kau tidak buruk,” ucap kafuku pelan. “Ibumu hanya berpikir demikian karena hanya itu yang ia inginkan.”

      Misaki mengangkat bahunya sedikit. “Biasanya ia tidak seperti itu, tetapi saat dirinya sudah berada dalam pengaruh alkohol, ia hanya akan mencercaku terus-menerus. Mengatakan kalimat-kalimat yang sama lagi dan lagi. Hal itu membuatku sakit hati. Buruk memang, aku tahu, namun aku merasa lega dirinya tiada.

      Kali ini kesunyian antara mereka semakin panjang.

      “Apa kau memiliki teman?” tanya Kafuku.

      Misaki menggelangkan kepalanya. “Tidak satu pun”

      “Mengapa?”

      Misaki tidak menjawab. Ia menyipitkan matanya, fokus pada jalanan. Kafuku mencoba untuk tidur, tetapi rasa kantuknya sama sekali tidak datang. Mobil kembali beringsut maju lalu berhenti, beringsut maju dan berhenti lagi, sembari Misaki mengganti posisi giginya dengan cekatan. Di jalur yang berdekatan, truk pengangkut tadi melaju kedepan meninggalkan mobil mereka di belakang, seperti ada sebuah takdir agung yang melemparnya.

Kafuku tidak lagi mencoba untuk tidur. “Terakhir kali aku memiliki seorang teman kira-kira sepuluh tahun yang lalu,” tutur Kafuku, sembari membuka matanya. “Mungkin, ‘seseorang layaknya teman’ adalah sebutan yang lebih pas. Umurnya enam atau tujuh tahun lebih muda dariku, seorang pria yang sangat baik. Ia suka minum, jadi kami sering menghabiskan waktu untuk berbincang sambil minum bersama.

Misaki mengangguk-angguk dan menunggu Kafuku untuk melanjutkan ceritanya. Kafuku terhenti sesaat sebelum akhirnya melanjutkan lagi.

“Jujur saja, pria ini sebenarnya adalah selingkuhan istriku. Ia tidak menyadari bahwa aku tahu akan hal itu.”

Misaki membutuhkan beberapa saat untuk menyerap apa yang baru saja ia dengar. “Maksudmu pria ini pernah tidur dengan istrimu?” tanyanya.

“Benar. Sepertinya mereka berdua telah berhubungan seksual selama empat bulan, saat itu”

“Bagaimana kau tahu?”

“Ia sembunyikan itu dariku, tentu saja, namun aku dapat menebaknya. Butuh waktu yang lama untuk menjelaskan bagaimana. Tapi tidak perlu dipertanyakan, imajinasi ini tidak pernah mempermainkanku.”

Ketika mereka berhenti sebentar, Misaki mengangkat tangannya untuk membetulkan posisi kaca spionnya. “Tidak kah itu akan mempengaruhi hubungan pertemanan kalian?”

 “Justru sebaliknya,” Kafuku berkata. “Aku menjadikannya teman karena aku tahu ia telah tidur dengan istriku.”

Misaki tidak menjawab sepatah kata pun. Ia menunggu Kafuku untuk tetap berbicara.

“Bagaimana ya….Aku hanya ingin memahami. Alasan istriku tidur dengan pria ini, mengapa pria ini yang menjadi pilihannya. Paling tidak itulah motif ku di awal.

Misaki menarik nafas panjang dan dalam. Dadanya terangkat dari bawah jaketnya, lalu kembali seperti semula. “Tapi bukankah itu sangat menyakitkan? Minum dan berbincang bersama dengan seorang pria yang kau tahu sudah pernah tidur dengan istrimu sendiri?”

 

       “Memang tidak mudah,” ucap Kafuku. “Hal ini membuatku memikirkan sesuatu yang sepertinya ingin ku abaikan saja. Mengingat hal-hal yang ingin kulupakan. Namun saat itu aku sedang berakting. Hanya itu yang aku bisa, lagipula.

“Menjadi seseorang yang berbeda,” celetuk Misaki

“Tepat sekali.”

“Lalu kembali menjadi dirimu yang sesungguhnya.”

“Benar,” ucap Kafuku. “Entah kau menginginkannya atau tidak. Namun tempat untukmu kembali selalu terasa berbeda dari tempat yang kau tinggalkan. Itu aturannya. Tidak akan pernah terlihat benar-benar sama.

Gerimis mulai turun. Misaki menyalakan penyeka kacanya. “Lalu, apakah kau akhirnya mengetahui? Mengapa istrimu tidur dengan pria itu?”

“Tidak” Kafuku menjawab sambil menggelengkan kepalanya. “Aku tidak pernah mengerti. Pria ini memiliki sesuatu yang aku tidak punya. Okelah, banyak sekali kualitas dalam dirinya yang tidak ada pada diriku, sepertinya. Tetapi aku tidak pernah tahu kualitas macam apa yang membuat istriku terpana. Apa yang kita perbuat tidak berdasar pada hal-hal spesifik semacam itu—kita tidak dapat menunjukkan mengapa kita melakukan apa yang sedang kita lakukan. Suatu hubungan, khususnya hubungan antara seorang pria dan wanita, berlangsung pada—bagaimana aku dapat mengatakannya—pada tingkatan yang lebih umum. Lebih samar, egois, dan menyedihkan.”

Misaki berpikir sejenak. “Namun tetap saja,” lontarnya, “kau tetap berteman dengannya meski kau tidak memahami semuanya, ‘kan?”

Kafuku melepas topi baseball nya lagi dan meletakkannya di pangkuannya. “Ini susah untuk dijelaskan,” ucap Kafuku, sembari menggaruk kepala dengan telapak tangannya. “Sekali kau tenggelam dalam peran itu, akan sangat sulit untuk mencari waktu yang tepat untuk berhenti. Tidak peduli bagaimana itu menyerang perasaanmu, kau harus tetap mengalir bersamaan sampai pertunjukannya terbentuk, titik di mana makna yang sesungguhnya menjadi jelas. Sama halnya seperti musik. Sebuah lagu tidak mungkin berakhir sebelum benar-benar harus berakhir sesuai dengan akord yang telah ditentukan. Kau mengerti apa yang kumaksud?”

Misaki mengambil sebatang rokok Marlboro dari kemasannya dan mengapitnya di antara kedua bibirnya. Namun ia tidak akan pernah merokok apabila atap mobilnya tertutup, jadi ia biarkan rokok itu tetap mati.

“Lalu apakah pria itu masih tidur dengan istrimu saat kalian akhirnya berteman?”

“Tidak,”kata Kafuku. “Kalau saja masih,  mungkin itu akan membuat keadaan terlalu sulit. Kami berteman tidak lama setelah istriku wafat.”

“Jadi kalian adalah teman sungguhan? Atau kau hanya berakting?”

Kafuku berpikir. “Keduanya. Aku kesulitan mencari garis batas antara keduanya. Pada akhirnya itulah yang namanya berakting.”

 

Sejak awal, Kafuku telah merasa adanya semacam kasih sayang yang datang dari pria ini. Takatsuki namanya, pria jangkung yang rupawan, seorang pemeran utama romansa klasik. Usianya sekitar 40 tahun, bukanlah seorang aktor yang begitu hebat, bukan juga aktor yang berpenampilan khas. Jam terbang dalam karirnya masih terbatas. Seringnya, ia mendapatkan peran sebagai pria baik hati, meski terkadang ada sentuhan melankolis yang menutupi paras cerianya itu. Ia memiliki beberapa penggemar setia di kalangan wanita paruh baya. Kafuku bertemu dengannya saat keduanya berada di dalam satu ruang hijau sebuah studio TV. Sekitar enam bulan setelah wafatnya sang istri, Takatsuki menemuinya untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan belasungkawa. “Saya pernah berada dalam satu film dengan istri anda, saya berhutang banyak padanya,” ucap Takatsuki dengan ramah. Kafuku berterima kasih. Sejauh yang ia ketahui pada saat itu, secara kronologis, bahwa pria ini adalah pria terakhir yang pernah menjadi kekasih istrinya. Setelah hubungan perselingkuhan mereka berakhir istrinya harus masuk rumah sakit untuk melakukan sebuah tes dan terdiagnosa memiliki kanker rahim stadium 4.

      “Maaf, aku ingin meminta tolong padamu,” pinta Kafuku saat urusan mereka telah usai. Itu adalah saat bagi dirinya memulai apa yang telah ada di dalam pikirannya.

      “Yah, tentu. Apa yang bisa saya bantu?”

      “Kalau kau tidak keberatan, aku ingin meminta waktumu. Untuk berbicara perihal istriku. Mungkin kita bisa minum bersama sembari mengenang dirinya. Ia sering sekali berbicara tentangmu.”

Takatsuki tampak heran mendengarnya. Mungkin terkejut lebih tepat. Alisnya yang rapi menyatu saat ia perlahan memahami raut wajah Kafuku. Ia mencoba untuk mencari tahu, jika saja ada, maksud tersembunyi dari ajakan itu. Namun ekspresi seorang lelaki tua seperti Kafuku tampaknya susah untuk ditebak olehnya. Yang ia lihat hanyalah semacam ekspresi datar dan kaku dari seseorang yang baru saja ditinggal pergi oleh istrinya. Seperti permukaan air sungai yang tenang.

            “Aku hanya berharap dapat berbicara tentangnya dengan seseorang yang benar-benar mengenalnya,” ucap Kafuku menambahkan. “Jujur saja, sulit rasanya jika aku hanya duduk menyendiri di rumah. Aku tahu, meskipun ini terdengar seperti paksaan untukmu.” Takatsuki terlihat leb ga. Hubungan antara dirinya dan istri Kafuku tidak menjadi sebuah kecurigaan.

            “Tidak, sama sekali bukan paksaan. Dengan senang hati saya akan meluangkan waktu untuk anda. Saya hanya berharap, semoga saja kehadiran saya tidak membuat anda bosan.” Senyum tipis muncul saat Takatsuki mengatakan kata-kata itu, ujung matanya berkerut dengan penuh kasih sayang. Sebuah ekspresi yang begitu rupawan. Jika saja aku adalah seorang wanita paruh baya, pikir kafuku, pipiku sudah pasti merah merona saat ini.

            Takatsuki mereka-reka jadwal yang teringat di kepalanya. “Sepertinya saya punya banyak waktu untuk esok malam. Bagaimana dengan anda?”

            Kafuku menyetujui. Ia tertegun melihat betapa mudahnya membaca perasaan Takatsuki. Pria itu begitu terus terang—jika ia dapat menatap matanya lebih lama lagi, pikir Kafuku, mungkin ia dapat melihat sebuah tembok di belakangnya. Tidak ada yang disembunyikan, tidak ada niat yang jahat. Bukan tipe yang akan diam-diam menggali lubang dalam pada malam hari lalu menunggu seseorang untuk jatuh terperangkap di dalamnya. Namun, kemungkinan besar, ia juga bukanlah pria yang ditakdirkan untuk bisa mencapai kejayaan sebagai seorang aktor.

            “Di mana sekiranya kita bisa bertemu?” Tanya Takatsuki.

            “Kuserahkah itu padamu,” kata Kafuku. “Beri tahu padaku tempatnya, aku akan datang.”

            Takatsuki menyebutkan salah satu bar terkenal di Ginza. Ia akan memesan tempat privasi, katanya, agar mereka dapat berbicara dengan nyaman tanpa merasa terganggu akan terdengar oleh orang lain. Kafuku mengetahui tempat yang disebutkan. Setelah itu keduanya pun berjabat tangan dan beranjak pergi. Kafuku merasakan kelembutan tangan Takatsuki, jari-jemarinya yang panjang, telapaknya yang terasa sedikit lembab dan hangat, berkeringat seperti sedang merasa gugup.

            Setelah Takatsuki pergi, Kafuku duduk di salah satu kursi yang ada di dalam ruangan hijau, ia membuka kepalangan tangan kanannya dan memandangi telapaknya. Sensasi yang tertinggal setelah mereka berjabat tangan tadi masih begitu terasa. Tangan itu, jari-jemari itu, adalah tangan dan jemari yang telah membelai tubuh istrinya. Perlahan dan sengaja, menjelajahi setiap lekuk dan rekahnya. Kafuku memejamkan mata dan menghela nafas dalam. Demi Tuhan, apa yang telah diperbuatnya? Kafuku merasa bahwa apapun itu, ia tidak lagi memiliki pilihan lain selain melakukannya.

 

Sembari menyesap whiskey nya ketika ia sudah di dalam bar, Kafuku sampai pada satu kesimpulan. Takatsuki masih begitu terikat dengan istrinya. Ia belum juga mengerti fakta bahwa istrinya telah pergi untuk selamanya, fakta bahwa tubuh seorang perempuan yang pernah ia tahu telah menjadi tumpukan tulang belulang dan abu yang hangus. Kafuku dapat memahami bagaimana perasaannya. Ketika sorot mata pria itu mulai tampak berkaca-kaca mengingat masa-masa hidup istrinya, Kafuku ingin sekali menawarkan hatinya. Takatsuki terlihat tidak sanggup menyembunyikan kesedihannya. Kafuku meraba-raba situasi saat itu bahwa bisa saja ia menjebaknya dengan suatu pertanyaan menjebak jika ia memilih demikian, membujuknya untuk mengakui segalanya.

            Dilihat dari cara Takatsuki berbicara, istrinya lah yang menjadi penyebab mereka mengakhiri perselingkuhan itu. “Lebih baik kita tidak lagi perlu bertemu,” mungkin adalah bagaimana sang istri mengutarakannya. Dan Istrinya adalah seorang yang selalu sejalan dengan apa yang telah diucapkan. Sebuah hubungan beberapa bulan yang harus berakhir secara tiba-tiba. Tidak ada yang diperpanjang dan berlarut-larut. Sepanjang yang Kafuku ketahui, begitulah pola kisah percintaannya (kalau memang keduanya dapat dikatakan sebagai sepasang kekasih). Namun tampaknya, Takatsuki tidak dapat menangani sebuah putus cinta yang datang begitu saja. Ia sudah pasti mengharapkan suatu hubungan yang lebih kekal.

            Takatsuki sudah mencoba untuk menjenguk disaat Istri Kafuku sedang menjalani masa-masa kritisnya. Namun niat itu tertolak mentah-mentah. Setelah istri Kafuku dirawat di rumah sakit kota, wanita itu hampir tidak pernah bertemu dengan siapapun. Selain staf rumah sakit, dan hanya tiga orang terdekatnya saja yang mendapat izin berada di ruangannya: ibunya, adiknya, dan Kafuku. Takatsuki diselimuti oleh penyesalan bahwa saat itu ia tidak dapat bertemu dengannya. Ia bahkan tidak pernah tahu kalau wanita itu mengidap kanker sampai beberapa minggu setelah kematiannya. Kabar duka itu menyambar dirinya seperti petir, dan tampaknya ia belum bisa benar-benar menerimanya. Kafuku tahu bagaimana rasanya. Hanya saja perasaan mereka tetaplah jauh berbeda. Kafuku sudah menyaksikan istrinya menghabiskan sisa waktunya hingga hari terakhir baginya tiba, bahkan telah mencabut tulang-tulangnya yang putih bersih itu dari abu krematorium. Kafuku telah melewati banyak tahap bersama istrinya. Itu yang membuat semuanya berbeda.

Saat sedang mengenang mendiang istrinya bersama dengan Takatsuki, Kafuku mulai menyadari bahwa hanya dirinyalah yang sedari tadi mencoba untuk menghibur. Bagaimana perasaan istrinya kalau saja ia melihat jika mereka sedang duduk bersama saat ini? Pikiran itu membangkitkan emosi yang aneh bagi Kafuku. Ia meragukan bahwa yang telah tiada masih mampu berpikir atau merasakan apapun. Baginya, itulah yang paling menyenangkan perihal kematian.

Satu hal lainnya tampak semakin jelas. Takatsuki minum terlalu banyak. Banyak sekali kolega kerjanya yang merupakan peminum berat—mengapa seorang aktor sangat mudah terpengaruh dengan alkohol? —sehingga ia dapat mengetahui kalau kebiasaan Takatsuki ini tidak lah suatu yang baik dan sehat. Ada dua tipe peminum, menurut pertimbangannya: Mereka yang minum untuk meningkatnya personalitasnya, dan mereka yang minum sebagai cara untuk melepaskan diri dari suatu. Takatsuki jelas termasuk ke dalam yang kedua.

Kafuku tidak bisa menebak-nebak ada suatu apa yang pria ini coba untuk hindari. Mungkin kelemahannya dalam memainkan peran, atau trauma masa lalu. Atau mungkin saja sesuatu yang sedang terjadi saat ini lah yang menjadi persoalannya. Atau bisa jadi kombinasi dari tiga hal itu. Apapun itu, yang pria itu lakukan adalah mencoba sekuat tenaga entah untuk melupakannya atau untuk mematikan rasa sakit yang ditimbulkannya, yang mana itu akan membuatnya perlu untuk minum. Setiap satu gelas yang Kafuku tegak, Takatsuki menegak dua setengah. Cukup cepat.

Lagi-lagi, kemungkinan ia hanya merasa tegang. Tentu saja, bagaimana tidak, duduk berhadapan dengan suami seorang perempuan yang telah diam-diam menjalin hubungan dengannya. Jelas saja itu membuatnya gelisah. Namun Kafuku mengira ada sesuatu yang lain. Pria seperti Takatsuki mungkin hanya dapat minum dengan cara seperti ini.

Kafuku tetap mencoba minum dengan hati-hati, dan stabil sambil terus mengawasi Takatsuki di sebelahnya. Ketika Takatsuki mulai memasang kaca matanya dan tampak lebih tenang, Kafuku bertanya apakah ia sudah pernah menikah. Aku sudah menikah selama sepuluh tahun dan memiliki anak lelaki berumur 10 tahun, Takatsuki menjawab. Meskipun demikian, karena suatu hal, dirinya dan istri sudah berpisah sejak tahun lalu. Perceraian mungkin terjadi di antara keduanya, namun pertanyaan besarnya adalah siapa yang akan mendapat hak asuh bagi anak mereka. Yang ingin Takatsuki hindari adalah apabila ia tidak dapat mengunjungi anaknya dengan bebas. Ia membutuhkan anak lelaki itu bagi kehidupannya. Takatsuki menunjukkan foto anaknya kepada Kafuku. Anak lelaki tampan yang manis.

Selayaknya kebanyakan peminum, semakin banyak alkohol yang Takatsuki teguk semakin banyak meracau dirinya. Ia akan melontarkan seluruh informasi yang tidak seharusnya dikatakan. Kafuku hanya berperan sebagai pendengar, menyela dengan kalimat-kalimat yang mendorong Takatsuki untuk tetap berbicara dan mempersembahkan kata-kata hiburan bagi Takatsuki apabila memang diperlukan, sembari mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Kafuku berlagak seakan-akan perasaan terhangatnya hanya untuk Takatsuki. Bukan suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Kafuku memang terlahir sebagai seorang pendengar yang baik, dan memang benar dirinya menyukai pria muda ini. Sebagai tambahan, keduanya memiliki satu kesamaan besar: masih menaruh hatinya masing-masing pada seorang wanita rupawan yang telah tiada. Terlepas dari perbedaan hubungan mereka dengan wanita itu, tidak satupun dari keduanya mampu mengatasi rasa kehilangan itu. Ada banyak hal yang perlu dibicarakan dari kedua pria ini.

“Bagaimana kalau kita bertemu lagi lain hari?” Kafuku menyarankan ketika sore sudah mulai usai. “Senang berbicara denganmu. Sudah lama aku tidak merasa selega ini.” Kafuku telah membayar minuman mereka sementara Takatsuki tidak menyadari bahwa semua minuman itu harus dibayar. Alkohol membuatnya lupa dengan banyak hal. Bahkan sesuatu yang penting sekalipun.

“Tentu saja,” ucap Takatsuki, sembari mendongakkan kepalanya. “Saya ingin sekali berkumpul seperti tadi sekali lagi. Berbincang dengan anda telah menghilangkan beban di dalam hati saya.”

“Sepertinya memang pertemuan kita sudah ditakdirkan,” kata Kafuku. “Mungkin mendiang istri saya yang mempertemukan kita.”

Ada sebuah kebenaran akan itu.

Keduanya saling bertukar nomor telepon, lalu berjabat tangan dan berpisah.

 

 

Kedua pria itu kemudian bersahabat. Teman minum, lebih tepatnya. Mereka akan saling menghubungi satu sama lain, bertemu di bar, dan berbincang perihal apapun. Tidak sekalipun mereka pernah berbagi makanan. Hanya bar tempat keduanya berkumpul. Kafuku hampir tidak pernah melihat Takatsuki makan apapun yang lebih mengenyangkan ketimbang sebuah makanan ringan untuk menemaninya minum. Sejauh yang dirinya ketahui, Takatsuki mungkin saja tidak pernah makan makanan padat. Kecuali untuk bir yang ia pesan sesekali, whiskey adalah satu-satunya.  Whiskey single malt adalah pilihannya.

            Topik pembicaraan mereka beragam, namun pada waktu tertentu pembicaraan itu selalu berakhir pada mendiang istri Kafuku. Kafuku menceritakan kisah mudanya sementara Takatsuki mendengarkannya dengan seksama. Ia tampak seperti seorang peneliti yang sedang meneliti suatu memori dari subjek utamanya demi mengumpulkan data-data menyeluruh tentang orang lain. Kafuku merasa dirinya menikmati momen tersebut.

            Suatu malam, keduanya sedang minum di sebuah bar kecil mencolok yang terletak di jalan sempit belakang Museum Nezu, Aoyama. Pelayan bar di sana adalah seorang lelaki pendiam yang kiranya berumur 40 tahun-an. Seekor kucing kurus dengan bulu abu-abu meringkuk di atas rak display yang terletak di pojok ruangan. Tampaknya itu adalah kucing gang yang sudah menetap di dalam bar untuk saat ini. Sebuah rekaman jazz klasik terputar di meja piringannya. Kafuku dan Takatsuki menyukai suasana di bar tersebut, sudah beberapa kali keduanya berkunjung ke sana. Entah mengapa, sering kali hujan turun di setiap malam mereka bertemu, dan malam ini tidak terkecuali—hujan gerimis turun di luar.

            “Dia adalah wanita yang hebat,” kta Takatsuki, mengamati tangannya yang ia letakkan di atas meja. Tangan tersebut terlalu apik untuk seorang pria yang sudah paruh baya. Tidak ada kerutan di sekitar matanya, dan juga, jari-jemarinya terawat dengan baik. “Anda beruntung bertemu dengannya, Mr. Kafuku, dan dapat hidup bersamanya.”

“Kau benar,” ucap Kafuku. “Sepertinya aku pernah bahagia dahulu. Tetapi kebahagiaan itu nyatanya mengantarku pada sakit yang sama banyaknya.”

“Dengan cara apa?”

Kafuku mengangkat gelasnya dan mengaduk bongkahan es di dalamnya. “Dulu aku khawatir jika aku harus kehilangan dirinya. Membayangkannya saja sudah cukup membuat hatiku pilu.”

“Saya tahu bagaimana rasanya,” Takatsuki menyahut.

“Bagaimana bisa?”

“Maksud saya….,” jawab Takatsuki, mencoba untuk mencari kata-kata yang tepat. “Kehilangan seseorang sehebat dirinya.”

“Pada umumnya.”

“Ya,” ucapnya. Ia mengangguk beberapa kali, seperti berusaha untuk meyakinkan dirinya. “Saya hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya.”

Kafuku terdiam. Ia membiarkan kesunyian itu tetap hidup selama mungkin. Pada akhirnya ia berbicara.

“Meskipun begitu, pada akhirnya, aku tetap kehilangannya. Perlahan, pada awalnya, lalu seluruhnya. Seperti sesuatu yang terkikis sedikit demi sedikit. Prosesnya berlangsung lambat sampai akhirnya sebuah ombak menerjang semuanya, akarnya, segalanya. Apa kau paham apa yang kumaksud?”

“Sepertinya begitu.”

Mana mungkin kau memahaminya, Kafuku bergumam dalam hati.

“Yang paling menyakitkan adalah,” kata Kafuku. “Aku tidak benar-benar mengerti tentangnya—atau paling tidak suatu hal yang penting dalam dirinya. Dan mungkin akan berakhir seperti itu sekarang sebab dia telah pergi dan tiada. Seperti sebuah brankas kecil yang terkunci tenggelam di dalam dasar laut. Sakit sekali.”

Takatsuki berpikir sejenak sebelum berkata.

“Tapi, Pak Kafuku, apakah di antara kita semua pernah benar-benar bisa memahami orang lain? Betapapun kita mencintainya?”

“Kami sudah hidup bersama selama hampir dua puluh tahun,” kata Kafuku. “Sebagai sepasang suami istri, dan juga teman yang terpercaya. Kami sudah terbiasa membicarakan apapun dengan terbuka, atau begitulah pikirku. Tetapi bisa saja semua itu tidak benar-benar seperti yang aku katakan. Mungkin—bagaimana aku bisa katakan? —seperti aku memiliki semacam titik buta yang fatal.

“Titik buta,” Takatsuki bergumam.

“Ada sesuatu dalam dirinya, sesuatu yang penting, yang pasti sudah kulewatkan. Kalau aku melihatnya, mungkin, aku akan gagal mengenali apa yang seharusnya kulihat.

Takatsuki menggigit bibirnya. Ia meneguk seluruh minumannya dan meminta untuk diisikan lagi pada pelayan bar.

            “Saya tahu apa maksud anda,” katanya.

            Kafuku memandangnya. Kedua mata mereka saling bertemu namun sesaat kemudian Takatsuki berpaling.

            “Dalam arti apa kau mengetahuinya?” Kafuku bertanya dengan nada suara yang pelan.

            Pelayan bar membawakan segelas whiskey segar dengan es dan menaruhnya pada tatakan gelas Takatsuki yang sudah basah. Mereka tetap terdiam sampai pelayan bar itu pergi.

            “Dalam arti ap  kau mengetahuinya?” Kafuku mengulang pertanyaannya.

            Takatsuki merenungkan pertanyaan tersebut beberapa saat. Kafuku melihat sekilas pergerakan matanya. Ia ragu-ragu, Kafuku menyimpulkan. Memerangi desakan untuk mengungkapkan sesuatu. Pada akhirnya, meskipun begitu, Takatsuki berhasil tetap tenang dari apa yang telah mengguncangkannya.

            “Saya rasa kita tidak akan pernah bisa memahami semua yang wanita itu pikirkan,” katanya. “Itu yang ingin saya katakan. Entah siapa wanita itu. Jadi, saya meragukan titik nuta yang kau maksud itu tadi hanya ada pada dirimu saja. Jika memang anda ingin menyebutnya seperti itu, maka kita sebagai seorang pria hidup dengan titik buta yang sama. Dengan itu, saya kira anda tidak perlu menyalahkan diri sendiri.

            “Bagaimanapun, kau berbicara secara umum,” tutur Kafuku, setelah beberapa saat berpikir.

            “Benar,” Takatsuki menimpali.

            “Namun aku sedang berbicara perihal diriku dan mendiang istriku. Aku tidak ingin terlalu mudah terjun pada prinsip-prinsip umum itu.

            “Dari yang saya simpulkan,” Takatsuki mulai berbicara setelah terdiam, “istri anda adalah wanita yang hebat. Saya yakin akan hal itu meski saya sadar saya tidak banyak tahu tentangnya ketimbang anda. Jika begitu, anda sudah seharusnya bersyukur bisa menghabiskan dua puluh tahun bersamanya. Dalil yang mengatakan kalau kita dapat melihat hati seseorang dengan begitu jelas, menurut saya hanya lah permainan bodoh. Saya tidak peduli seberapa baik kita berpikir kita harus memahami mereka, atau seberapa besar kita mencintai mereka. Semua itu hanya akan memberi kita luka. Namun, menerka-nerka hati kita sendiri itu persoalan lain. Saya pikir akan mungkin kita mengetahui apa isi hati kita jika kita mencoba sebaik-baiknya. Jadi, pada akhirnya itulah rintangannya: melihat jauh ke dalam hati sendiri secara tanggap dan seserius yang anda bisa, dan berdamailah dengan apa yang anda temukan di sana. Jika memang kita berharap untuk bisa benar-benar memahami orang lain, kita perlu memulainya dengan memahami diri sendiri dahulu.”

            Apa yang baru saja dikatakan Takatsuki terasa seperti benar-benar berasal dari dalam dirinya. Sebuah pintu tersembunyi yang terbuka begitu saja, meski hanya sebentar. Kata-katanya jelas dan penuh keyakinan. Ia sedang tidak berakting, itu sudah pasti. Kemampuan beraktingnya tidak terlalu bagus. Kafuku tidak mengatakan apapun, hanya diam dan memandangi mata Takatsuki. Kali ini ketika kedua mata mereka bertemu, Takatsuki menatapnya cukup lama. Mereka dapat melihat ada suatu sorot saling mengenal diri kedua mata masing-masing.

 

 

Kafuku dan Takatsuki saling berjabat tangan sekali lagi sebelum keduanya berpisah. Gerimis hujan masih turun di luar. Setelah Takatsuki beranjak pergi menerjang gerimis dengan jas hujan kremnya, Kafuku, seperti biasa, menatap telapak tangannya. Tangan itulah yang telah membelai tubuh mendiang istrinya, pikir Kafuku. Namun hari itu, pikiran tersebut tidak membuatnya tercekap. Justru, reaksinya adalah, ya, hal-hal seperti itu pasti terjadi. Mereka memang terjadi. Lagi pula, itu hanya persoalan darah dan daging. Tidak lebih dari bongkahan tulang dan abu pada akhirnya, ‘kan? Tentu saja ada yang lebih penting dari itu. Jika memang anda ingin menyebutnya seperti itu, maka kita sebagai seorang pria hidup dengan titik buta yang sama. Sudah sangat lama kata-kata itu berdering pada telinganya.

 

 

“Lalu, apakah pertemanan itu bertahan lama?” tanya Misaki, matanya tetap fokus ke jalan dan barisan mobil di depannya.

“Berlangsung selama sekitar enam bulan kedepan. Kami bertemu di bar setiap dua minggu sekali dan seperti biasa minum bersama,” kata Kafuku. “Lalu semua itu berakhir. Aku mulai mengabaikan telepon darinya. Tidak pernah mencoba untuk menghubunginya. Setelahnya, ia pun mulai berhenti meneleponku.”

“Aku jamin, pasti ia merasa ada yang tidak beres.”

“Mungkin.”

“Kau bisa saja melukai hatinya.”

“Sepertinya.”

“Mengapa tiba-tiba kau akhiri pertemanan itu?”

“Karena tidak ada lagi alasan bagiku untuk berpura-pura.”

“Maksudmu tidak perlu lagi untuk berteman sekali kau tidak perlu berakting?”

“Ya, itu dia,” kata Kafuku. “Selain itu ada hal lain juga.”

“Apa itu?”

Kafuku terdiam. Misaki menoleh padanya sesekali, rokok yang tidak ia bakar itu masih terjepit di sela-sela bibirnya.

“Merokoklah jika memang kau mau,” ucap Kafuku.

“Huh?”

“Kau boleh menyalakan rokok itu.”

“Tapi atapnya tertutup.”

“Aku tidak peduli.”

Misaki menurunkan jendela mobilnya, menyalakan Marlboro-nya dengan pemantik api mobil, lalu menyedot rokok itu dengan dalam. Matanya menyipit lega. Ia menghela perlahan, menghembuskan asap rokoknya tepat keluar jendela.

“Tembakau adalah pembunuh,” tutur Kafuku.

“Menjadi hidup adalah pembunuh, pikirkan saja,” timpal Misaki.

Kafuku tertawa. “Itu adalah salah satu untuk melihatnya.”

“Ini adalah pertama kalinya aku melihat dirimu tertawa,” kata Misaki.

Dia benar, pikir Kafuku. Sudah lama memang sejak ia tertawa bukan sebagai peran, namun sungguhan.

“Aku sudah lama ingin memberitahumu ini,” ucap Kafuku. “Tapi ada sesuatu yang sangat menarik tentang mu. Kau sama sekali tidak buruk, kau tahu.”

“Terima kasih sekali. Fitur wajahku polos. Begitu saja. Seperti Sonya.”

Kafuku menatap Misaki terkejut. “Kau membaca Uncle Vanya juga, ku lihat-lihat.”

“Aku mendengarkan sedikit dari ceritanya setiap hari, jadi aku ingin tahu sebenarnya tentang apa itu. Aku bisa penasaran juga, kau tahu,” kata Misaki. “‘Oh, betapa malangnya diriku! Aku tidak tahan lagi. Mengapa saya terlahir begitu buruk? Sebuah penderitaan!’ drama yang menyedihkan, ya?”

“Drama yang menyedihkan, benar sekali,” kata Kafuku. “‘Oh, tidak tertahankan! Apa tidak ada yang ingin membantuku? Aku sudah empat puluh tujuh sekarang. Kalau aku hidup sampai enam puluh aku masih punya tiga belas tahun lagi untuk menahan penderitaan. Terlalu lama. Bagaimana aku bisa melewati tiga belas tahun itu? Apa yang akan membantuku menjalani hari-hari ini?’ Orang-orang hanya hidup sampai sekitar enam puluh tahun saja saat itu. Uncle Vanya beruntung dirinya tidak lahir pada masa ini.”

“Kau lahir di tahun yang sama seperti ayahku. Sudah kuperiksa.”

Kafuku tidak merespons. Ia mengambil segenggam kaset dan memindai judul lagu di labelnya. Namun tidak ada satupun yang ia putar. Misaki mengapit rokoknya di tangan kirinya dengan seluruh lengannya keluar dari jendela. Hanya ketika barisan mobil-mobil itu melaju ke depan dan ia perlu menggunakan kedua tangannya untuk menyetir dan mengganti gigi, rokok itu ia apit di sela bibirnya sebentar.

“Jujur saja, aku ingin menghukumnya,” ucap Kafuku, seperti sedang mengakui sesuatu. “Pria yang telah tidur dengan istriku.” Kafuku menaruh kembali kaset-kasetnya ke dalam rak.

“Menghukumnya?”

“Membuatnya membayar apa yang telah diperbuat. Rencanaku saat itu adalah untuk menjebaknya dan berpura-pura menjadi temannya, mencari kesalahan fatalnya, dan gunakan itu untuk menyiksanya.”

“Kesalahan fatal seperti apa?” Misaki bertanya, menautkan alisnya bertanya-tanya.

“Aku belum terpikirkan hingga ke sana. Dia adalah seseorang yang akan membiarkan pertahanannya runtuh ketika sedang minum, jadi aku yakin sesuatu akan muncul cepat atau lambat. Aku bisa gunakan apa saja untuk menciptakan sebuah skandal—menciptakan situasi yang akan menghancurkan reputasinya. Aku rasa itu sangat mudah. Lalu ketika aku tahu ia sedang bergelut dengan perceraiannya, dia mungkin akan kehilangan kesempatan untuk bisa menemui anak laki-lakinya, yang mana akan menjadi sebuah tamparan keras. Aku ragu ia bisa pulih dari itu.

“Itu cukup kelam.”

“Yah, kelam, tentu saja.

“Dan itu semua hanya untuk balas dendam karena ia telah tidur dengan istrimu?”

“Agak berbeda dengan balas dendam,” kata Kafuku. “Aku tidak sanggup melupakan apa yang telah terjadi di antara mereka. Sudah ku coba sebisa mungkin. Namun aku gagal. Gambaran dirinya di dalam dekapan pria lain terus-terusan menghantui pikiranku, se nyata kehidupan. Seolah-olah ada iblis yang tidak memiliki tujuan menempel pada ujung langit-langit, mata tertuju padaku. Setelah kematian istriku, aku berharap iblis itu menghilang jika aku menunggu lebih lama lagi. Ternyata tidak. Bahwa kehadirannya semakin kuat. Aku perlu menyingkirkannya. Untuk bisa melakukan itu aku harus melepaskan amarahku.

Kafuku bertanya-tanya mengapa ia mengatakan semua itu kepada seorang gadis muda asal Junitakicho, Hokkaido, seorang gadis yang cukup muda untuk menjadi anaknya. Namun sekali Kafuku memulainya, ia merasa tidak dapat berhenti.

“Jadi kau pikir kau akan mencoba untuk menghukumnya,” kata Misaki.

“Benar.”

“Tapi kau tidak melakukannya, ‘kan?”

“Tidak, aku tidak melakukannya.” kata Kafuku.

Misaki terlihat lega mendengarnya. Ia menghela nafas pelan dan menjentikkan rokoknya ke jalan. Kafuku berpikir mungkin itu yang biasa dilakukan oleh orang-orang di Junitakicho.

“Aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik, tetapi pada hal tertentu, banyak persoalan yang sudah tidak lagi perlu dipermasalahkan. Semacam iblis tadi hilang begitu saja.” tuturnya. “Amarah itu hilang. Atau mungkin saja sejak awal semua ini bukanlah suatu amarah.”

“Terserah apapun itu, aku senang karena perasaan itu akhirnya pergi. Kau tidak perlu benar-benar melukai seseorang.”

“Aku pikir juga begitu.”

“Tetapi kau tidak pernah mencari tahu alasan mengapa istrimu tidur dengan pria itu, dan mengapa harus pria itu, bukan?”

“Tidak. Aku sama sekali tidak pernah mengerti itu. Masih menjadi suatu tanda tanya besar bagiku. Pria ini sangat baik, tidak rumit. Dan aku pikir ia benar-benar mencintai istriku. Bukan semata-mata hanya urusan hubungan badan saja baginya. Kematiannya membuatnya sangat terpukul. Ia bahkan ditolak saat ingin menjenguknya. Namun aku tidak bisa tidak menyukai pria ini, meskipun kita bisa menjadi sepasang teman.

Kafuku berhenti berbicara. Ia mencoba untuk menemukan evolusi atas perasaannya demi mencari kata-kata yang tepat.

“Kenyataannya, dia adalah pria dengan konsekuensi kecil. Personaliti nya bagus. Ia adalah pria yang tampan, dengan senyum memikat. Mudah dekat dengan siapa saja. Tetapi dia bukanlah seseorang yang sangat dihormati. Dia pria yang lemah, dan aktor picisan. Sementara istriku memiliki hasrat yang kuat dan karakter yang luar biasa. Dia adalah tipe wanita yang mampu memikirkan sesuatu sendiri. Jadi bagaimana bisa dia jatuh hati pada orang yang tak berarti seperti itu hingga bisa tidur dengannya? Itu masih menusuk hatiku.”

“Terdengar seperti kau merasa terhina. Benarkah?”

Kafukur berpikir sebentar. Benar apa yang ia katakan. “Mungkin kau benar,” jawabnya.

“Bukankah itu mungkin jika istrimu sama sekali tidak jatuh hati padanya?” ucap Misaki simpel. “Dan itu sebabnya ia tidur dengannya?”

Kafuku menatap raut muka Misaki seperti memandangi dari jarak yang jauh. Ia beberapa kali menyalakan pembersih untuk membersihkan kaca depan. Pembersih kaca yang baru saja dipasang berdecit seperti suara cekcok anak kembar.

“Perempuan bisa saja seperti itu,” lanjut Misaki menambahkan.

Kafuku tidak dapat memikirkan apa yang harus ia katakan, ia memilih untuk diam.

“Bagiku, itu adalah penyakit. Memikirkan itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Cara ayahku meninggalkan aku dan ibu, suatu pelecehan bagi ibuku. Aku menyalahkan penyakit itu. Tidak ada logika yang ikut campur. Yang bisa aku lakukan hanyalah menerima apa yang telah mereka perbuat dan mencoba untuk tetap menjalani kehidupanku.

“Kalau begitu kita semua adalah aktor,” ucap Kafuku.

“Ya, kupikir itu benar. Pada titik tertentu.”

Kafuku menyandarkan punggungnya pada kursi, memejamkan mata, dan mencoba untuk memfokuskan pikirannya pada suara mesin saat Misaki mengganti gigi. Tetapi ia tidak dapat menangkap suara itu dengan pas. Terlalu halus, terlalu misterius. Kafuku hanya bisa mendengar sedikit gradasi dari deru mesinnya. Seperti sayap seekor serangga yang sedang terbang, sesekali terdengar dekat, lalu memudar.

Saatnya untuk tidur, pikir Kafuku. Tidur lelap dan bangun setelahnya. Sepuluh atau lima belas menit mungkin cukup. Lalu kembali lagi ke panggung, dan berakting. Sorot cahaya yang sangat terang, barisan-barisan dialog yang telah ia latih. Tepuk tangan, dan tirai yang tertutup. Meninggalkan diri untuk sementara waktu, lalu kembali lagi. Namun diri yang kembali padanya tidak pernah sama dengan diri yang ditinggalkan.

“Aku ingin tidur sebentar,” ucap Kafuku.

Misaki tidak menjawab. Ia dengan tenang mempelajari jalanan. Kafuku bersyukur atas keheningannya.

 

 

 

 

 

 

Comments